Tampilkan postingan dengan label Pusat Komputer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pusat Komputer. Tampilkan semua postingan

FAKTOR PENDUKUNG PUSAT PERBELANJAAN

            Faktor-Faktor Pendukung Pusat Perbelanjaan
Faktor-faktor ini lebih cenderung pada faktor lokasi untuk sebuah area perbelanjaan, yaitu terdiri dari :
a.    Skala bisnis
Dalam hal ini yang perlu dipikirkan adalah berapa banyak ritel yang harus dibuka dalam suatu area perbelanjaan. Membuka banyak ritel dalam area perbelanjaan yang sama dapat menjadi solusi terbaik terhadap ritel yang kinerjanya kurang baik. Cara ini terbukti berhasil pada Home Depot, sebuah ritel di bidang peralatan rumah tangga yang cukup besar di Amerika Serikat.
b.    Demografi dan karakterisitik gaya hidup
Area dimana populasi terus mengalami kenaikan lebih baik dibandingkan dengan area yang mengalami penurunan. Karakteristik gaya hidup dari populasi cukup relevan dalam menentukan lokasi area perbelanjaan. Penetapan lokasi juga tergantung pada target pasar yang dikejar.
c.    Iklim bisnis
Dalam hal ini, konsumen kelas atas identik dengan penghasilan yang tinggi, dan berati pula konsumen memiliki daya beli yang tinggi. Hal ini juga berguna untuk menentukan area mana yang tumbuh lebih cepat.
d.    Kompetisi
Tingkat kompetisi dalam sebuah area perbelanjaan juga mempengaruhi permintaan atas barang dagangan.
e.    Masalah – masalah lokasi secara global
Dalam hal ini, sebuah area perbelanjaan perlu mengamati karakteristik, tingkat persaingan, maupun pola lalu lintas di sekitar lokasi tersebut.

MACAM-MACAM PUSAT PERPELANJAAN

                  MACAM-MACAM PUSAT PERPELANJAAN  
                  Berdasarkan skala dan pelayanan
1)    Pusat perbelanjaan local atau neighborhood centre
Skala lingkungan, radius pelayanan ½ mil untuk 5000 – 40.000 penduduk dengan luas sekitar 30.000 – 100.000 sq.ft. Barang – barang yang diperdagangkan untuk keperluan sehari – hari. Unit – unit terbesar berbentuk supermarket. Lokasi umumnya terletak pada perpotongan jalan kolektor (secondary roads).

2)    Pusat perbelanjaan distrik atau community center
Skala wilayah, radius pelayanan 2 mil untuk 40.000 – 150.000 penduduk dengan luas sekitar 120.000 – 250.000 sq.ft. Tediri dari junior departement store, supermarket, dan toko – toko. Lokasi umumnya terletak pada perpotongan jalan utama.

3)    Pusat perbelanjaan regional atau main centre
Skala kota, radius pelayanan 4 mil untuk 150.000 – 400.000 penduduk dengan luas sekitar 300.000 – 1.000.000 sq.ft. Terdiri dari departement store, junior departement store, supermarket, dan toko – toko.

            Berdasarkan sistem penjualan dan pelayanan
1)    Berdasarkan sistem pelayanan, digolongkan menjadi :
a)    Berdasarkan kualitas barang, meliputi perdagangan besar/grosir dan perdagangan kecil/ritel.
b)    Berdasarkan jenis barang yang diperdagangkan
·         Demand store
Pertokoan yang menjual barang kebutuhan pokok, misalnya peralatan rumah tangga, sandang, pangan, dan barang pecah belah.
·         Convenience store
Gerai ini mirip minimarket dalam hal produk yang dijual, akan tetapi berbeda dalam hal harga, jam buka, luas ruang, dan lokasi. Harga lebih mahal dari minimarket, jam buka sampai 24 jam, luas ruang antara 200 m2 hingga 450 m2, dan berlokasi di tempat yang strategis.
·         Impulse store
Pertokoan yang menjual barang – barang kebutuhan tambahan.
c)    Berdasarkan variasi barang yang dijual :
·         Specialty shop, produk yang dijual lebih lengkap, harga lebih bervariasi.
·         Variety shop, toko yang menjual berbagai macam barang
2)    Berdasarkan sifat penjualan
a)    Convenience system
Dengan cara tawar menawar antara pedagang dengan konsumen dimana ruang antara pedagang dan konsumen terlihat jelas.
b)    Self service system
Dengan cara memilih dan melayani sendiri dengan harga yang telah ditentukan. Pada sistem ini ruang antara pedagang dan konsumen tidak dipisahkan.

                  Berdasarkan ruang lingkup dan pelayanan
1)    Perdagangan luar negeri, meliputi perdagangan ekspor, impor, dan transit.
2)    Perdagangan dalam negeri, meliputi perdagangan local dan regional.
Berdasarkan cara penyampaiannya
a)    Perdagangan langsung, yaitu dimana barang – barang yang telah dibeli dapat langsung dimiliki secara fisik.
b)    Perdagangan tidak langsung, yaitu dimana barang – barang yang telah dibeli tidak dapat dimiliki secara fisik.
Berdasarkan jenis barang yang diperdagangkan (Sumber : Ma’ruf, Hendri, Pemasaran Ritel, PT. Gramedia, Jakarta, 2005)
1)    Perdagangan barang
a)   Barang tahan lama : menjual barang – barang seperti kendaraan, produk furnitur, alat rumah tangga, bahan bangunan, dan perhiasan.
b)   Barang yang tidak tahan lama : yang menjual barang – barang seperti makanan termasuk sepatu, makanan, general merchandise, produk perawatan tubuh, obat – obatan/jamu, dan bahan bakar minyak.
2)    Perdagangan jasa
a)    Pelayanan pribadi : yang melayani kebutuhan pribadi seperti laundry/dry cleaning, studio foto, salon kecantikan, barber shop, dan pelayanan kesehatan dan kebugaran.
b)    Jasa hiburan : seperti bioskop, gedung bowling, permainan olahraga ice skating, golf course, dan taman hiburan
c)    Jasa perbaikan / perawatan alat : bengkel kendaraan, tempat pencucian kendaraan, pusat reparasi arloji, dan pusat perbaikan alat elektronik.
d)    Jasa penginapan : seperti hotel, motel, losmen, wisma, dan tempat penginapan lainnya.

JENIS-JENIS PERBELANJAAN

Jenis – jenis Pusat Perbelanjaan
a.    Berdasarkan bentuk fisik (Sumber ; Ma’ruf, Hendri, Pemasaran Ritel, Gramedia, Jakarta, 2005)
1)     Perbelanjaan tradisional
a)  Warung
Berupa bangunan sederhana yang permanen atau semi permanen yang menjual barang kebutuhan sehari – hari.
b)  Toko
Bentuk dan penataan interiornya lebih baik daripada warung yang menjual produk – produk baik kebutuhan sehari – hari maupun produk – produk tahan lama.
c)  Pasar
Pasar terdiri atas kios – kios dibagian dalamnya dan toko –toko dibagian luarnya yang menghadap jalan, menjual berbagai macam produk yang diperlukan masyarakat, dari barang kebutuhan sehari – hari sampai dengan produk yang tahan lama.
d)  Pertokoan sepanjang jalan
Pertokoan yang terletak di sepanjang kiri dan kanan jalan, mempunyai gudang dan servis di bagian belakang. Kegiatan lalu lintas pengunjung dan barang di muka pertokoan menjadi satu dengan lalu lintas umum.
2)     Perbelanjaan modern
a)  Minimarket
Merupakan toko yang menyediakan berbagai macam kebutuhan masyarakat mulai dari yang bersifat sementara sampai yang tahan lama. Luas ruang mini market antara 50 m2sampai 200 m2.
b)  Specialty store
Menjual hanya untuk barang – barang khusus. Luas bangunan sekitar 8000 m2.
c)  Factory outlet
Mirip toko akan tetapi lebih banyak menjual kebutuhan fashion, luas ruang juga bervariasi.
d)  Distro atau distribution outlet
Sama seperti factory outlet.
e)  Supermarket
Menjual berbagai kebutuhan sehari – hari (bersifat kering, basah, dalam bentuk kemasan), dan barang kebutuhan berkala. Harga telah ditetapkan sehingga tidak terjadi tawar – menawar. Supermarket yang kecil mempunyai luas 300m2 sampai 1.100 m2 dan supermarketbesar dengan luas ruang antara 1.100 m2 sampai 2.300 m2.
f)   Warehouse
Merupakan ritel yang menjual produk makanan yang jenisnya terbatas dan produk – produk umum dengan layanan yang minim dan harga yang rendah. Luas lantainya sekitar 13.000 m2 dan biasanya berlokasi diluar kota.
g)  Off-price retailing
Menyediakan berbagai jenis produk dengan merk berganti – ganti dan lebih kearah orientasi fashion dengan tingkat harga produk yang murah.
h) Departemen store atau toserba
Barang yang diperdagangkan tidak membawa perusahaan secara individu tetapi membawa nama perusahaan niaga. Departement store memiliki luas ruang yang bervariasi mulai dari beberapa ratus meter, hingga 2.000 m2 sampai 3000 m2.
i)   Perkulakan atau gudang rabat
Menjual berbagai kebutuhan sehari – hari mulai yang bersifat tahan sementara samapai barang tahan lama.
j)    Superstore
Sama seperti departement store akan tetapi berbeda dalam hal luas ruang, yaitu mulai 2.300 m2- 4.700 m2.
k)  Hypermarket
Demikian hanya dengan supermarket tidak jauh beda dengan departement store dan superstore, yang membedakan hanya luas ruang diatas 10.000 m2.
l)   Mall
Mall merupakan pengembangan dari pusat perbelanjaan yang dipadukan dengan sarana hiburan dan rekreasi, mall memuat banyak gerai.
m) Trade centre
Mirip mall akan tetapi tidak memiliki ruang publik seluas mall dan biasanya tidak tersedia departement store dan supermarket.
n)  Box store
Mempunyai luas sedikit lebih besar daripada minimarket, yaitu mulai 450 m2 sampai 850 m2.
o)   Discount store
Mempunyai ciri – ciri menekan biaya supaya rendah, menjual produk dengan harga lebih murah, pilihan barang terbatas, serta desain toko dan pelayanan pada konsumen yang sangat minim.
p)   Combination store
Merupakan gabungan dari supermarket dan general merchandise dengan luas ruang 2800 m2 – 9300 m2.
q)   Value retailing
Merupakan toko diskon yang menjual sejumlah besar jenis produk dengan tingkat harga rendah dan biasanya berlokasi di daerah padat penduduk.
r)    Category killer
Category killerdikenal juga dengan istilah power retailer yang merupakan specialty store raksasa. Category killermempunyai karakteristik :
·         Menyediakan rangkaian produk yang sedikit tetapi mempunyai banyak ukuran atau pilihan.
·         Lebih mengutamakan produk bermerk.
·         Berlokasi di wilayah suburban, seperti Karawaci dan Tangerang.
·         Lebih menarik bagi segmen masyarakat kelas atas
·         Menjual produk – produk dengan harga paling rendah di pasaran.


RUMUSAN MASALAH PUSAT KOMPUTER

Rumusan Masalah
1.    Arsitektural
            a.    Bagaimana mengoptimalkan keadaan fisik ritel, baik eksterior maupun interior sebagai pendukung kegiatan perdagangan.
            b.    Bagaimana mengatur tata ruang dan organisasi ruang dalam, terutama penempatan antara ruang retil penjualan barang dengan retil penjualan jasa.
            c.    Bagaimana merencanakan bentuk fisik, pemilihan material, sistem struktur dan kesatuan bentuk bangunan agar sesuai dengan fungsi bangunan sekaligus sebagai identitas yang dapat membedakannya dengan bangunan lain.
            d.     Bagaimana menentukan lokasi dan tapak yang sesuai bagi peruntukan Pusat Komputer di Makassar agar fungsi dan potensi dapat terpenuhi dan saling mendukung dalam kesatuan penataan kota dan peruntukan lahan kota Makassar.
2.    Non Arsitektural
            a.    Bagaimana menciptakan fungsi yang optimal bagi kegiatan Pusat Komputer di Makassar dan memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat akan fasilitas yang menawarkan keleluasaan, kemudahan, dan kenyamanan.
            b.    Bagaimana mewadahi kegiatan – kegiatan yang tidak terpusat menjadi kegiatan yang terpusat pada suatu tempat.
            c.    Bagaimana memenuhi tuntutan fasilitas perdagangan untuk menunjang fungsi kota Makassar sebagai kota niaga di Kawasan Timur Indonesia.

PERKEMBANGAN PUSAT PERBELANJAAN

Perkembangan pada Pusat Perbelanjaan
Pusat – pusat perbelanjaan di Indonesia terus berkembang mulai dari pasar tradisional sampai pasar modern berupa supermaket dan hypermarket. Kemudian muncullah konsep baru dalam industri ritel yaitu one stop shoping, yaitu suatu tempat berbelanja yang memenuhi kebutuhan individu dan keluarga dalam satu atap. Konsep one-stop-shoping mulai dikenalkan pada dasawarsa 1980-an yang kemudian menjadi popular di awal 1990-an.
Perkembangan gerai modern yang dimulai sejak awal tahun 1960-an di Jakarta terus meningkat, dimana arti dari gerai modern itu sendiri adalah penataan barang menurut keperluan yang sama dikelompokkan dibagian yang sama yang dapat dilihat dan diambil langsung oleh pembeli, penggunaan alat – alat pendingin udara, dan adanya pramuniaga professional. Salah satu contoh dari gerai modern adalah departemen store, yang pertama di Jakarta adalah Sarinah yang pada dasawarsa 1960-an belum mengenal costumer service.
Selanjutnya industri ritel berkembang lagi dengan munculnya pusat perbelanjaan dengan format baru yang lebih memikat konsumen. Jika dulu tempat untuk berdagang adalah ruko, maka sekarang telah dijalankan dipusat perbelanjaan yang memberikan nilai tambah lain yaitu berupa hiburan dan kenyamanan berbelanja. Ini ditandai dengan adanya fasilitas hiburan dan rekreasi, restoran yang beragam, bank atau anjungan tunai mandiri (ATM), ruang publikindoor yang lebih lega dan menyenangkan, dan area parkir yang luas.

LATAR BELAKANG PUSAT KOMPUTER DI MAKASSAR

LATAR BELAKANG
Ritel, yang merupakan bentuk terkecil dalam fasilitas perbelanjaan, adalah industri yang dinamis, dimana terdapat dinamika hubungan antara barang dan manusia. Agar barang dapat dimanfaatkan oleh manusia, maka diperlukan tempat,  usaha, jasa, atau industri yang mempertemukan barang tersebut ke pengguna, yang dikenal dengan istilah ritel. Ritel dalam pengertian secara umum adalah mulai dari pengasong dan kedai di tepi jalan, warung di kampung, toko, hingga pasar modern. Barang yang diolah melalui ketatnya rentetan proses produksi dan melewati panjangnya jalur distribusi akan menjadi sia-sia, apabila barang tersebut tidak dibeli oleh masyarakat melalui mekanisme pasar.

Kata ritel berasal dari bahasa Perancis, ritillier, yang artinya memotong atau memecah sesuatu. Ritel dapat didefinisikan sebagai semua kegiatan yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir. Ritel mempunyai 6 ciri utama, yaitu:
1.    Mengandalkan keadaan fisik ritel sebagai alat dagang.
2.    Menempatkan bisnis terbuka kepada pembeli umum.
3.    Melakukan kontak langsung dengan konsumen pengunjung ritel.
4.    Memberlakukan satu harga untuk satu jenis produk.
5.    Menjual dengan harga satuan lebih tinggi dibanding harga produsen.
6.    Menjual dalam jumlah kecil, tetapi dalam frekuensi yang tinggi.
Bisnis ritel mengalami perkembangan cukup pesat, yang ditandai dengan semakin banyaknya bisnis ritel tradisional yang mulai membenahi diri menjadi bisnis ritel modern maupun munculnya bisnis ritel modern yang baru. Pengelolaan ritel modern membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai agar dapat mendukung pengelolaan sistem persediaan yang lebih efisien, memudahkan pelayanan, dan pemprosesan sehingga dapat memuaskan konsumen.
Pusat perbelanjaaan yang ada di kota Makassar saat ini rata – rata masih menggunakan konsep lama, yaitu konsep one-stop-shopping. Kini para pengembang terutama di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, sudah mulai menangkap keinginan para konsumen dengan mengembangkan trend pusat perbelanjaaan yang memfokuskan pada penjualan barang – barang tertentu serta menghadirkan tema – tema tersendiri yang disertai dengan pelayanan jasa hiburan dan rekreasi, seperti pusat perbelanjaan khusus otomotif, elektronik, komputer dan lain-lain.
Di kota – kota besar, toko-toko komputer pada umumnya menyatu dalam sebuah pusat perbelanjaan. Bila situasinya seperti itu, kita bisa memilih toko yang terpercaya dengan membanding-bandingkan langsung bagaimana cara mereka melayani calon pembeli, bagaimana mereka memajang barang yang dijual, seberapa lengkap barang yang dijual, dan bagaimana mereka melayani pertanyaan – pertanyaan kita. (Sumber : Tabloid PC Plus Edisi Februari  2007).  Berdasakan sumber ini, maka semakin jelas bahwa kunci kesuksesan dari bisnis ritel terletak pada keadaan fisik ritel dan kualitas pelayanannya.
Pada umumnya, para pengusaha dagang komputer di Makassar mencari tempat di pusat aktifitas atau pusat pelayanan yang merupakan konsentrasi penduduk. Kebanyakan dari ritel ini berupa sarana fisik yang memadai, misalnya bagian dari tempat tinggal, ruko, atau bahkan ruang – ruang yang dibuat khusus dengan ukuran yang relatif kecil dan dari bahan yang sederhana. Kondisi seperti ini jelas sangat menghambat sirkulasi, baik sirkulasi barang, pengunjung, ataupun sirkulasi di luar bangunan. Di samping itu, penampilan fisik bangunan juga tidak mendukung fungsinya sebagai fasilitas penjualan komputer, sehingga tidak bisa dibedakan dengan bangunan lainnya.
Fasilitas penjualan komputer di Makassar yang berada dalam satu wadah, seperti yang ada di MTC Karebosi dan Computer City, umumnya berupa  ritel yang terdiri dari banyak pengusaha. Perangkat – perangkat komputer tidak dijual berdasarkan jenis perangkat yang ada, sehingga pembeli biasanya mengalami kesulitan dalam mencari perangkat yang mereka inginkan. Tidak adanya fasilitas uji coba mengakibatkan konsumen rata – rata hanya membeli perangkat berdasarkan merk tanpa mengetahui kelebihan dan kekurangan perangkat yang dibelinya.
Dari segi promosi, perangkat komputer kurang mampu bersaing dengan produk sejenis seperti handphone, PDA, ataupun dengan perangkat elektronik seperti TV,  tape recorder, DVD player. Selain di  internet, info tentang perangkat komputer hanya bisa ditemukan di majalah atau tabloid khusus komputer.
Berasarkan kondisi di atas, maka dibutuhkan sebuah fasilitas yang dapat mewadahi kegiatan dagang komputer dan ajang mencari info tentang perkembangannya serta sarana pendukungnya. Dengan adanya Pusat Komputer di Makassar yang memiliki pengelolaan yang teratur, efektif dan efisien dengan fasilitas penunjang yang lengkap diharapkan dapat memudahkan konsumen untuk mendapatkan perangkat komputer yang sesuai baik dari harga, kualitas dan kuantitasnya.
Pusat Komputer di Makassar harus sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat serta dapat menampung segala kegiatan yang akan berlangsung di dalamnya dengan tetap mempertimbangkan kebijaksanaan dan peraturan yang berlaku, sehingga perencanaan dan perancangan dapat memberi hasil yang optimal sesuai dengan tujuan yang diinginkan dan dapat memberikan yang terbaik bagi masyarakat. 

TEMAN-TEMAN PENGUNJUNG BLOG INI, DI "LIKE" YA..

Artikel Terbaru Via Email
Dapatkan kiriman artikel terbaru dari blog ini langsung ke email Anda.!!!

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes